Headlines News :

Cari Blog Ini

Daftar ISI Label

Home » » Tahukah Anda, bahwa Lagu Kulihat Ibu Pertiwi itu Karya Jiplakan?

Tahukah Anda, bahwa Lagu Kulihat Ibu Pertiwi itu Karya Jiplakan?

Written By m imron on Jumat, 22 Oktober 2010 | 06.29


oleh: sem505    

Pengarang : Sem505
 
Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati, air matamu berlinang mas intanmu terkenang, hutan gunung sawah lautan simpanan kekayaan, kini ibu sedang susah merintih dan berdoa,
Siapa pencipta lagu yang berjudul Ibu Pertiwi ini? Pasti jawabannya tidak tahu. Tahukah Anda pula, kalau lagu ini karya jiplakan? Perbuatan yang memalukan bangsa kita karya plagiat ini justru diterima sebagai LAGU NASIONAL dan diajarkan secara resmi di sekolah sejak SD sampe mahasiswa.
Lagu ini (nada, irama, birama, notasi, dll kecuali liriknya) sama persis dengan lagu gerejawi yang dua kali diterjemahkan dari karya Charles Crozart Converse (1868), komposer Amerika Serikat (1832-1918). Lirik berjudul 'What a friend we have in Jesus', karya Joseph Medlicott Scriven (1855).
Terjemahan bahasa Indonesianya pertama kali dilakukan oleh C.Ch.J, Schreuder dan L.J.M. Tupamahu (awal 1900-an?) dan masuk dalam Nyanyian Dua Sahabat Lama (Nomor 201). Lalu diterjemahkan lagi oleh Yayasan Musik Gereja tahun 1975, dan menjadi lagu gereja di Indonesia dalam buku Kidung Jemaat (Nomor 453).
Siapa sih pencipta (baca: plagiator) lagu yang kemudian menjadi lagu nasional Indonesia ini? Abdullah Kamsidi (http://komponiskamsidi.multiply.com/journal/item/1/Sejarah_musik_kota_Solo) menulis bahwa pencipta lagu Ibu Pertiwi adalah komponis asal Solo, Kamsidi Samsuddin. Andaikan benar si Kamsidi Samsuddin penciptanya, maka perlu dipertanyakan julukan komponisnya. Karena itu, pemerintah harus mencabut lagu Kulihat Ibu Pertiwi dari daftar lagu-lagu nasional. Jika tidak, kita tidak perlu salahkan bangsa Malaysia menjiplak karya bangsa kitai, karena kita sendiri bangsa penjiplak.
Info lengkap, silakan klik link di bawah.

Diterbitkan di: Oktober 22, 2010
Share this post :

+ komentar + 3 komentar

11 Juni 2011 07.48

Saya suka dengan tulisan-tulisan anda sebagai praktisi hukum, tapi akan lebih baikbila dipertebal rasa Nasionalisnya.

27 Oktober 2016 06.56

betul.. kritik dan komentar atas dasar kebenaran dan mau menerima itu yang kita butuhkan.. jangan giliran negara lain plagiat kita komennya bukan main rendah setengah mati..

5 Juni 2018 17.44

Hak cipta lagu kalo ga salah 100tahun . Setelah itu bisa dioprek2 dan bilang lagu ciptaannya sendiri, tapi tetap ga tau malu. Kita juga bisa oprek2 karya mozart, dan dan bilang lagu mozart adalah ciptaan kita. Tapi apa ga malu?

Posting Komentar